Manajemen MPMBS manajemen yang memberikan otonomi yang lebih besar kepada sekolah dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif untuk memenuhi kebutuhan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan mutu sekolah.
Esensi MPMBS adalah memberikan otonomi sekolah dan Pengambilan keputusan secara partisipatif untuk mencapai sasaran mutu sekolah.
Otonomi : kemandirian dalam mengatur dan mengurus dirinya sendiri, merdeka /tidak tergantung.
Pengambilan keputusan partisipatif : suatu cara untuk mengambil keputusan melalui penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik, dimana warga sekolah (guru, siswa,karyawan, orang tua siswa,tokoh masyarakat) didorong untuk terlibat secara langsung dalam proses pengambilan keputusan yang dapat berkontribusi terhadap pencapaian tujuan sekolah/madrasah.
Tujuan Dan Alasan Penerapan MPMBS
Meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan kemandirian, fleksibilitas, partisipasi, keterbukaan, kerjasama, akuntabilitas dan sustainabilitas, dan inisiatif sekolah dalam mengelola, memanfaatkan dan memberdayakan sumberdaya yang tersedia.
Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama.
Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua, masyarakat,dan pemerintah untuk meningkatkan mutu sekolah.
Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah. (Dikdasmen depdiknas, 2002)
Alasan:
Dengan pemberian otonomi yang lebih besar kepada sekolah, sekolah akan mempunyai inisiatif dan kreativitas dalam meningkatkan mutu sekolah.
Dengan pemberian fleksibilitas/keluwesan yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumber dayanya, maka sekolah diharapkan lebih luwes dan lincah dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdayanya secara optimal untuk meningkatkan mutu sekolah
Sekolah lebih mengetahui,kelemahan, peluang dan ancaman bagi dirinya sehingga personil sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya.
Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya, khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik.
Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling tahu apa yang terbaik bagi sekolahnya.
Esensi MPMBS adalah memberikan otonomi sekolah dan Pengambilan keputusan secara partisipatif untuk mencapai sasaran mutu sekolah.
Otonomi : kemandirian dalam mengatur dan mengurus dirinya sendiri, merdeka /tidak tergantung.
Pengambilan keputusan partisipatif : suatu cara untuk mengambil keputusan melalui penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik, dimana warga sekolah (guru, siswa,karyawan, orang tua siswa,tokoh masyarakat) didorong untuk terlibat secara langsung dalam proses pengambilan keputusan yang dapat berkontribusi terhadap pencapaian tujuan sekolah/madrasah.
Tujuan Dan Alasan Penerapan MPMBS
Meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan kemandirian, fleksibilitas, partisipasi, keterbukaan, kerjasama, akuntabilitas dan sustainabilitas, dan inisiatif sekolah dalam mengelola, memanfaatkan dan memberdayakan sumberdaya yang tersedia.
Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama.
Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua, masyarakat,dan pemerintah untuk meningkatkan mutu sekolah.
Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah. (Dikdasmen depdiknas, 2002)
Alasan:
Dengan pemberian otonomi yang lebih besar kepada sekolah, sekolah akan mempunyai inisiatif dan kreativitas dalam meningkatkan mutu sekolah.
Dengan pemberian fleksibilitas/keluwesan yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumber dayanya, maka sekolah diharapkan lebih luwes dan lincah dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdayanya secara optimal untuk meningkatkan mutu sekolah
Sekolah lebih mengetahui,kelemahan, peluang dan ancaman bagi dirinya sehingga personil sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya.
Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya, khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik.
Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling tahu apa yang terbaik bagi sekolahnya.